Tuesday, 1 May 2012

Strategi Marketing Pengusaha Bandung




Beberapa hari lalu, saya berbincang-bincang dengan seorang pengusaha kuliner besar di Bandung bernama Ali Bagus, pemilik restoran Bebek Garang. Yang kami bicarakan bukan hanya jenis aspek kuliner yang dihasilkan, tetapi juga cara sang pemilik restoran  menjalankan usaha kulinernya sehingga menghasilkan jenis aspek kuliner yang sekarang dikenal oleh masyarakat banyak. Restoran Bebek Garang sudah berdiri sekitar hampir 5 tahun. Dan Ali tidak melalui cara-cara instan untuk mencapai semua itu. Banyak hal yang ia terapkan untuk meraih tujuannya. Berdasarkan pengalaman pemilik sekaligus pengelola restoran tersebut, beberapa strategi yang is lakukan diantaranya adalah:

  1. Pantang Menyerah
Strategi ini memang terlalu lumrah untuk dibahas. Tapi pada kenyataannya memang strategi inilah yang paling kuat diantara strategi lainnya. Menjadi pengusaha menurut Ali adalah menjadi orang yang siap rugi. Bagaimana bisa. Tujuan menjadi pengusaha adalah untuk mendapatkan profit yang besar, mengapa menjadi pengusaha adalah menjadi orang yang siap rugi? Unik memang. “Belum siap rugi, jangan berniat jadi pengusaha”, begitu kata pemiliki restoran A.  Menjadi pengusaha adalah menjadi orang yang siap berjuang diantara kemungkinan-kemungkinan yang ada. Hidup memang mengenai kemungkinan. Kalian mungkin menang, bahkan mungkin juga kalah. Meskipun barang yang kalian hasilkan sangat bagus dan sempurna, konsep strategi penjualan yang kalian lakukan sudah sangat menarik, bukan berarti kalian tidak mungkin gagal dan rugi. Maka dari itu, kunci terpenting dari semua strategi adalah untuk jangan pantang menyerah. “Pada saat saya menjalankan restoran ini, satu setengah tahun saya tidak menghasilkan profit sama sekali. Bayangkan jika saya menyerah pada hari ke satu tahun enam bulan lewat satu hari, saya tidak akan bisa seperti sekarang ini memiliki 5 cabang di Bandung dan dikenal banyak orang”, tutur pemilik Ali. Jadi,pertanyaan untuk calon pengusaha, apakah kalian sudah siap rugi?

  1. Ikuti Kontes Perlombaan
Salah satu alasan mengapa mengikuti kontes-kontes perlombaan menjadi salah satu jalan mereka untuk mengembangkan bisnis Ali adalah agar bisnisnyamemiliki ‘nama’. Kita bisa ambil hikmah dari pengalaman Ali. Tapi jangan hanya mengikuti kontesnya dan menjadi pesertanya saja. Kalian harus berusaha memenangkan juara pertama dari kontes tersebut. Selain mendapatkan ‘nama’ sebagai penghargaan dan bentuk apresiasi untuk kalian, hal ini juga tidak menutup kemungkinan bagi kalian untuk dikenal oleh banyak orang atau barangkali kalian bisa menjadi brand ambassador dari para brand besar yang menjadi bagian dari sponsor dari acara kontes yang kalian ikuti. Begitulah yang dilakukan oleh Ali yang menjuarai peringkat pertama untuk kontes bergengsi dari Honda untuk Youth Icon dan juga peringkat kedua untuk kontes entrepreneur dari Shell.

  1. Manfaatkan Social Media (Twitter)
Pemasaran dari mulut ke mulut masih dipercaya lebih efektif daripada pemasaran melalui media-media elektronik seperti tv atau radio atau media-media tertulis lainnya. Disini, saya posisikan pemasaran melalui Twitter sebagai pemasaran bentuk dari mulut ke mulut. Ya.. Twitter memang masih merupakan suatu media tertulis. Namun karena tidak sedikit orang yang mengungkapkan perasaannya ke Twitter, posisi Twitter disini lebih cenderung bersifat pendapat atau kesan pembeli. Dengan menyebarkan kesan positif melalui kualitas produk yang kalian hasilkan, mereka akan memberikan pendapat positif mereka dan menuliskannya di akun Twitter mereka. Dengan hasil tersebut, setidaknya produk kalian akan dikenal oleh beberapa orang. Sisanya, kalian harus tetap gerilya menyebarkan informasi mengenai produk kalian. Ali yang akun twitter restorannya memiliki jumlah followers sekitar 3000 lebih merasa sangat bersyukur dengan hadirnya twitter sebagai salah satu media pemasarannya.

  1. Membuat Suatu Komunitas
Jangan anggap remeh kekuatan suatu brand, bahkan brand kecil sekalipun. Atau jika brand kalian masih merupakan brand kecil, jangan merasa tidak percaya diri. Bergabung dengan brand-brand lain dan membentuk suatu komunitas yang senada dengan konsep usaha kalian akan membuat nama brand kalian menjadi lebih hidup. Dengan mendirikan suatu komunitas, selain kalian bisa saling bertukar ilmu, kalian juga bisa sama-sama besar karena kekuatan kalian dengan anggota-anggota di komunitas tersebut bersatu menjadi satu; sebuah kesatuan. Hal inilah yang dilakukan Ali, pemilik restoran besar di Bandung ini. Ia menjadi anggota dari komunitas kuliner Bandung bernama SIndikat Kuliner dan berkontribusi menjadi salah satu pengurus di komunitas tersebut. Ali bergabung dengan brand atau restoran besar lainnya di Bandung seperti Bober CafĂ©, JnC Cookies, Redsdipo Warung Bawal, Kuma Ramen, dan lain-lain. Ia merasakan banyak manfaat dengan bergabung di dalam suatu komunitas. Dengan terbentuknya suatu komunitas yang senada dengan usaha yang sedang kalian jalankan, kalian akan dengan sangat mudah mendapatkan dukungan, baik materi ataupun non-materi, dari pihak-pihak pemerintah karena kekuatan kalian akan menjadi besar  di mata masyarakat.


  1. Jangan Malas untuk Meeting
Pada saat kalian mendengar kata ‘meeting’, mungkin yang pertama kali muncul di pikiran kalian adalah: pulang telat, makan waktu yang lama, membosankan, mengantuk, dan sia-sia. Yaa.. Itu hanya bagi orang yang menganggap bahwa meeting itu tidak bermanfaat sama sekali. Cobalah tanam dari diri kalian bahwa meeting itu menyenangkan. Yang saya bahas disini bukan hanya meeting internal, namun meeting dengan orang-orang baru yang ingin sekedar berdiskusi dengan kalian. Ada yang kalian tidak tahu dari apa yang sebenarnya bisa kalian dapat dari menghadiri meeting. Orang yang membuat janji untuk bertemu dengan kalian mungkin tidak selalu orang yang kalian kenal. Namun terkadang meeting dengan orang yang belum dikenal terasa membosankan daripada orang yang dikenal. Tapi apakah kalian tahu? Apa yang kalian diskusi dengan orang yang kalian kenal mungkin saja akan mendapatkan keuntungan tentang apa yang sudah kalian dapatkan. Jika kalian bertemu dengan orang baru, maka kesempatan kalian mendapatkan hal-hal baru justru lebih besar daripada kalian bertemu dengan orang-orang lama. Jangan remehkan orang-orang yang ingin sekedar bertemu dengan kalian. Siapa sangka dia adalah orang berada yang tadinya tidak berniat menginvestasikan hartanya menjadi berniat menginvestikan hartanya setelah berdiskusi dengan kalian.

2 comments: